1.Pendahuluan

Diphtheria atau difteri adalah penyakit infeksi yang menyerang selaput mukosa hidung dan tenggorokan. Penyakit ini dapat menyancam jiwa penderitanya. Dapat pula pertama kali menyerang kulit penderita.

Toksin yang dikeluarkan bakteri tersebut dapat menyebabkan gangguan terhadap fungsi jantung dan syaraf, yang dapat menyebabkan kematian.

2.Penyebab penyakit

Difteri disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae, yang dikenal ada dua macam yaitu:

Toxigenic Corynebacterium diphtheriae

Non-toxigenic Corynebacterium diphtheriae

Yang toksigenic ada 4 strain, tergantung keganasannya. Dengan metode penentuan yang baru bisa ditentukan apakah bakterinya tergolong toksigenic atau tidak dalam waktu 18 jam, namun tidak semua Rumah Sakit mempunyai fasilitas ini.

3.Faktor resiko

Seseorang akan mudah terjangkit penyakit Difteri diantaranya :

3.1.Apabila immunisasinya tidak lengkap

3.2.Apabila tinggal di daerah padat penduduk yang kurang higenis

3.3.Apabila mengalami kekebalan tubuh yang rendah (compromised immune system)

3.4.Bepergian ke daerah endemik Difteri.

4.Perjalanan Penyakit

Secara umum bakteri ini tidak infasif dan jarang masuk ke dalam aliran darah, tapi berkembang biak lokal pada selaput mukosa atau pada jaringan yang mati. Toksin yang dihasilkan dapat masuk aliran darah dan menyebar keseluruh tubuh.

Waktu bakteri berkembang biak dan mengeluarkan toksin, menyebabkan kematian sel, dan dengan fibrin, leukosit (sel darah putih), serta komponen darah lainnya membentuk selaput yang bisa berwarrna putih, kuning, atau agak abu-abu.. Bersamaan dengan terjadinya pembengkaan, maka dapat menimbulkan penyumbatan saluran nafas, yang bisa fatal.

Toksin bisa mencapai Jantung, dengan mekanisme tertentu dapat menghambat protein sintesis dalam sel jantung dan kerusakaan mitokhondria. Hal ini seterusnya dapat menyebabkan “fatty infiltration” yang diikuti oleh terjadinya fibrosis, selanjutnya fungsi jantung akan tergannggu. Kematian bisa terjadi

Toksin juga dapat menyebabkan kerusakan myelin sheath (pembungkus sel syaraf) dan sel syarafnya sendiri juga bisa rusak. Dibandingkan dengan syaraf sensori, syaraf motorik lebih mengalami kerusakan, selanjutnya fungsi syaraf tersebut terganggu.

5.Gejala dan Tanda-tanda Penyakit

            Disini hanya akan diterangkan gejala penyakit difteri yang menyerang tenggorokan dan tonsil saja dan bisa menjalar ke bagian paru yang lain. Gejala timbul dua sampai lima hari setelah terpapar penyakit, diantaranya:

5.1.Nyeri tenggorokan dan suara parau

5.2.Sakit kalau menelan

5.3.Kelenjar submandibular membengkak (lehernya kelihatan membesar)

5.4.Adanya selaput agak abu-abu menutupi tenggorokan dan tonsil (amandel)

5.5.Susah bernafas, atau nafasnya cepat

5.6.Keluar cairan dari hidung yang purulen (bernanah).

5.7.Panas dan atau dingin

5.8.Badan terasa lemah.

5.9.Ada kejala pre shok. Keluar keringat dingin, nadi cepat, pucat, dan lemah.

6.Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dan laboratorium. Gejala klinis merupakan pegangan utama dalam menegakkan diagnosis, karena setiap keterlambatan dalam pengobatan dapat menimbulkan resiko pada penderita.

Secara klinis diagnosis dapat ditegakkan dengan melihat adanya membran yang tipis yang berwarna keabu-abuan, seperti sarang laba-laba dan mudah berdarah bila diangkat.

Pemeriksaan Laboratorium termasuk, Gram stain, kultur hapusan hidung dan tenggorokan untuk mengidentifikasi  Corynebacterium diphtheriae.

7.Pencegahan penyakit

7.1.Rutin immunisasi pada waktu bayi dan anak, serta booster pada waktu tertentu (ada jadual).

7.2.Menghindari bepergian kedaerah dimana terjadi “out break” (kejadian luar biasa) difteri.

7.3.Anak dan orang yang dekat dengan penderita difteri (close contacts) hendaknya diperiksakan ke dokter.

7.4.Pada waktu kejadian luar biasa, apa bila ada anak/orang yang mengeluh sakit tenggorokan hendaknya diperikan ke dokter secepatnya.

8.Pengobatan

Pengobatan dilakukan di Rumah Sakit. Biasanya diberi anti biotik Penicilin apabila tidak alergi, Eritromisin apabila alergi pada Penicilin. Selain itu mungkin memerlukan:

  • Cairan melalui infus set
  • Oxygen
  • Bed rest
  • Memonitor keadaan jantung
  • Pemasangan tubal intra trachea
  • Koreksi terhadap gangguan jalan nafas

9.Jadual Immunisasi

Biasanya pemberian immunisasi difteri bersamaan dengan immunisasi penyakit lain (kombinasi).

Di bawah ini adalah jadual immunisasi lengkap yang terbaru:

Untuk melihat diagram click di bawah ini !

Diagram Jadual immunisasi

DTP diberikan pada umur 2, 4, dan 6 bulan. Booster pada umur 18 – 24 bulan, dan pada unuur 5 tahun.

Setelah umur 7 tahun bisa diberi DT (Td, hanya difteri dan tetanus)

9.Efek samping pemberian vaksin

Setelah pemberian vaksin anak bisa mengalami rasa sakit di tempat injeksi dan terlihat agak kemerahan.

Anak lesu, temperaturnya meningkat, kehilangan nafsu makan, dan muntah.

Yang lebih berat namun jarang terjadi adalah reaksi alergi, temperatur meningkat tinggi dan mengalami kejang.

10.Bahan bacaan

10.1.http://www.mayoclinic.com/health/diphtheria/DS00495

10.2.http://health.nytimes.com/health/guides/disease/diphtheria/overview.html

10.3.http://www.usu.ac.id/id/files/artikel/Dipteri.pdf

10.4.http://en.wikipedia.org/wiki/DPT_vaccine

10.5.http://www.ayahbunda.co.id/imunisasi

(Di “down load” tgl. 8-11 s/d 6-12-2011)