Dibawah ini adalah hasil penelitian kami tentang kandungan beta karotin dalam ketela rambat dan ketela ungu dan pengaruh menggoreng dan merebusnya.

PENENTUAN KADAR BETA-KAROTIN DALAM UBI JALAR KUNING DAN UNGU DENGAN MEMAKAI “HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY” (HPLC), DAN PENGARUH AKIBAT MEREBUS DAN MENGGORENG.

Mohammad Hanafi, Sri Utari Purnomo, dan Tuti Aryani. RINGKASAN

Kekurangan vitamin A di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu penanganan serius. Sumber vitamin A terutama untuk anak balita yang dapat terjangkau masyarakat luas masih belum banyak diketahui. Kadar vitamin A dalam makanan/sayuran menurut daftar yang ada tidak akurat.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar beta-karotin dalam ubi jalar kuning dan ungu dengan menggunakan HPLC, dan untuk mengetahui pengaruh merebus dan mengmenggoreng terhadap kadar beta-karotin.

Ubi jalar kuning dan ungu sulit didapat dipasar-pasar di Surabaya. Ubi jalar kuning diperoleh di Malang, sedangkan ubi jalar ungu didapat di Gunung Kawi. Ubi jalar kuning saja yang dibagi menjadi tiga kelompok: mentah, direbus dan digoreng. Ubi jalar yang ungu tidak dikelompokkan sebab pada penentuan pendahuluan didapat kadar beta-karotinnya terlalu kecil. Metode ekstraksi dan analisa dengan HPLC dilakukan menurut cara yang sudah ada diliteratur dengan sedikit modifikasi.

Kadar beta-karotin dalam ubi jalar kuning cukup tinggi. Rata-rata terdapat 7111mgr / 100 gram ubi jalar kuning basah atau setara dengan 3951 I.U. vitamin A. Ubi jalar ungu boleh dikatakan tidak mengandung beta-karotin. Merebus atau menggoreng tidak menurunkan kadungan beta-karotin.

Dianjurkan  untuk membudidayakan ubi jalar kuning dengan harapan menjadi sumber vitamin A, terutama untuk balita guna menghindari kekurangan vitamin A.

DETERMINATION OF BETA-CAROTENE CONTENT IN YELLOW AND PURPLE SWEET POTATOES WITH HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY (HPLC) AND THE EFFECT OF COOKING PROCESS (FRYING AND BOILING).

Mohammad Hanafi, Sri Utari Purnomo and Tuti Aryani.

SUMMARY

Vitamin A deficiency is still a major public health problem in Indonesia, which required a serious attention. An alternative source of vitamin A with low cost and consumable especially for children is still in search. The present available data of vitamin A activity in food stuffs in not accurate due to the method used as instrumentation available was inadequate.

This work aims to provide a more reliable data on the provitamin A activity of yellow sweet potatoes with a highly accurate and more reproducible instrument. The effect of cooking process (frying and boiling) on the beta-carotene content are also studied.

Sweet yellow and purple potatoes are hardly found in Surabaya market. Sweet yellow potatoes available in Malang while the purple one obtained in Gunung Kawi. Sweet yellow potatoes were divided into three group, i.e. fresh, fried and boiled. Sweet purple potatoes was not treated similarly due to very low content of beta-carotene. The method applied in the determination of beta-carotene was an established, accurate and reproducible one.

It was found that 100 gram fresh sweet yellow potatoes contained 7111 mgr beta-carotene or equal to 3951 I.U. of vitamin A. Virtually there was no beta-carotene in sweet purple potatoes. There was no effect of the cooking process on the beta-carotene content.

It is suggested that the sweet yellow potatoes should be cultivated more vigorously so it will be available especially for young children to prevent vitamin A deficiency.

Naskah lengkapnnya bisa di click dibawah ini

UBI JALAR