1.Definisi

Asma adalah penyakit inflamasi (radang) kronik saluran napas menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan nafas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi (nafas berbunyi ngik-ngik), sesak nafas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam menjelang dini hari. Gejala tersebut terjadi berhubungan dengan obstruksi jalan nafas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversible dengan atau tanpa pengobatan (1)

2.Faktor penyebab

Penyebab asma belum terungkap scara pasti, kemungkinan adalah kombinasi antara faktor genetik dan pengaruh lingkungan. Pemaparan terhadap  suatu polutan dapat merangsang (trigger) timbulnya gejala asma seperti:

2.1.Polutan udara penyebab alergi (allergen), diantaranya:

2.1.1.Debu rumah

2.1.2.Bulu binatang

2.1.3.Debu yang berasal dari bahan binatang atau tumbuhan, jamur, kecoak, kutu.

2.1.4.Serbuk bunga

2.2.Infeksi saluran nafas, misalnya kena flu.

2.3.Olah raga

2.4.Udara dingin

2.5.Polutan udara yang iritan, contoh asap

2.6.Obat tertentu

2.6.1.Beta bloker

2.6.2.Aspirin

2.6.3.Golongan NSAID (anti radang bukan steroid) ?

2.7.Emosi dan stres

2.8.Obat pengawet tertentu (sufites)

2.9.Kembalinya asam lambung ke atas (GERD)

2.10.Siklus menstruasi

2.11.Alergi terhadap makanan tertentu, misalnya ikan laut (2)

3.Faktor resiko

Penderita asma cukup banyak dan jumlah penderitanya pengalami peningkatan tiap tahun, tetapi belum jelas penyebabnya. Namun ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkian untuk menderita asma, seperti:

3.1.Ada diantara familinya kena asma, misalnya orang tuanya,atau saudaranya

3.2.Menderita penyakit alergi, alergi kulit atau pernafasan

3.3.Terjadi pemeparan di tempat kerja, misalnya petani, tukang cukur, pabrik yang menggunakan chemikalia

3.4.Ibunya merokok sewaktu masih dalam kandungannya.

3.5.Beratnya kurang waktu dilahirkan (low birth weight) (3)

4.Patofisiologi dan Patogenesis

Penyempitan jalan nafas bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

4.1.Konstriksi brokhus. Disebabkan oleh kontraksi otot polos bronkhial.

4.2.Edema jalan nafas. Makin parah penyakitnya maka akan diikuti makin berat proses inflamasinya, hipersekresi mukus dan bisa membentuk sumbatan (plug)

4.3.Perubahan struktur dari bronkheoli, seperti hipertopi dan hiperplasi otot polos. Akibat dari prubahan struktur bronchioli ini mungkin tidak responsif terhadap pengobatan biasa (4).

5.Perjalanan Penyakit

Perjalanan penyakit asma natural adalah timbulnya gejala dan perkembangan penyakit seiring dengan berjalannya waktu. Penyakit asma adalah suatu penyakit yang bervariasi riwayat perjalanannya pada individual itu sendiri dan diantara satu dengan orang lain. Tidak seperti yang disangka semula bahwa makin lama dan makin parah gejala akan diikuti oleh makin berkurangnya fungsi paru; ternyata penelitian menunjukkan hasil yang tidak sesederhana itu. Secara keseluruhan, hasil beberapa penelitian menyimpulkkan apabila gejala asma terjadi sebelum umur tiga tahun, maka akan mengakibatkan berkurangnya fungsi paru, sedangkan apabila gejala asma timbul setelah usia tiga tahun tidak berakibat berkurangnya fungsi paru seiring dengan perjalanan waktu.

Ada bukti dari hasil penelitian yang lain bahwa fungsi paru akan berkurang seiring dengan perjalannan waktu pada penderita asma bila dibandingkan dengan orang normal, namun seberapa besar dan apa penyebabnya masih belum diketahui secara pasti (4).

6.Diagnosis

Diagnosis bisa ditegakkan berdasarkan gejalanya yang khas. Pada pemeriksaan auskultasi juga bisa didengar bunyi yang khas (wheezing). Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pemeriksaan spirometri berulang. Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya respon terhadap pemberian dua kali hisapan (two puffs) dari agonis beta-resepttor  sebesar 15%  atau lebih pengurangan obstruksi pernafasan dalam FEV1. Spirometri juga digunakan untuk menilai beratnya penyumbatan saluran udara dan untuk memantau pengobatan (5,6).

7.Pengobatan

7.1.Pencegahan.

7.1.2.Menghindari pemaparan terhadap alergen, bagi penderita asma yang alergi. Misalnya tidak usah pakai obat nyamuk semprotan atau  obat nyamuk bakar atau menghindari dari bau yang menyengat.

7.1.3.Menghindari makan makannan yang umumnya menimbukan alergi, misalnya ikan laut sperti udang dan lainnya.

7.1.4.Menghindari oleh raga berat di daerah yang dingin.

7.1.5.Immunisasi dengan anti flu, bagi mereka yang akan berkumpul dengan orang banyak, untuk mencegah menderita flu.

7.1.6.Desensitisasi atau immunoterapi. Dengan penyuntikan ekstrak dari penyebab alergi. Pengobatan ini populer, namun penelitian terkontrol sedikit sekali, dan tidak membuktikan secara signifikan  keefektifannya. (6)

7.2.Obat

Oba-obatan untuk asma dibagi menjadi dua.

7.2.1.Obat yang dapat menghambat kontraksi otot polos.

7.2.1.1.Epinefrin

7.2.1.2.Theofilin atau aminofilin

7.2.1.3.Atropin metil nitrat.

7.2.2.Obat yang mencegah atau mengobati inflamasi.

7.2.2.1.Glukokortikoid.Obat oral atau untuk injeksi. Kalau diperlukan hasil yang cepat harus diberikan secara injeksi. Oral; prednison, deksametason, dan metil prednisolon. Injeksi, yang banyak tersedia deksametason. Ada juga kortikosteroid inhalasi.

7.2.2.2.Cromolyn sodium dan nedocromil sodium. Sebagai stabilisator sel mast

7.2.2.3.Zileuton adalah  5-lipoxygenase synthesis inhibitor (USA), sebagai modifikator dari leukotrin (6).

8.Bahan Bacaan

1.http://www.infoasma.org/asma.html

2.http://www.mayoclinic.com/health/asthma/DS00021/DSECTION=causes

3.http://www.mayoclinic.com/health/asthma/DS00021/DSECTION=risk-factors

4.http://www.nhlbi.nih.gov/guidelines/asthma/asthgdln.pdf

5.http://id.wikipedia.org/wiki/Asma

6.Harrison’s 15th Disorders of Respiratory sydstem, 252 asthma E. R. McFadden, Jr.