Pengantar

Cikungunya (Chikungunya) adalah penyakit demam yang disebabkan oleh virus dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Cikungunya berasal dari bahasa Makonde, penyakit ini pertama diterangkan oleh Robinson Glossed pada tahun 1955, setelah ada ledakan penyakit (outbreak) tahun 1952 di Tanzania selatan. Cikungunya berarti “to become contorted or that leans downward”, berdirinya tidak bisa tegak. Dewasa ini cikunguna sudah tersebar di sekitar 37 negara, sebagian besar berada di Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, sedangkan Itali merupakan satu-satunya negara  di Eropa yang tercatat  dalam daftar negara yang pernah mengalami endemik atau kejadian luar biasa (KLB) atau outbreak.

Cikunggunya virus termasuk genus Alphavirus, yang ditularkan ke manusia melalui nyamuk Aedes Aegypti, nyamuk yang sama menularkan juga demam berdarah. Epidemik cikungunya disebabkan oleh rangkaian penularan manusia-nyamuk-manusia, sedangkan yang menjadi tempat cadangan virus atau resevoirs adalah kera dan mungkin manusia sendiri dan binatang lain seperti tikus, dan burung, namun belum bisa dibuktikan kebenarannya.

Manifestasi klinik

Virus cikungunya menyebabkan panas dengan masa inkubasi antara 2 – 4 hari. Panas yang meningkat tajam bisa mencapai 39 atau 40o C, kadang menggigil yang biasanya turun apabila diberi obat penurun panas. Penderita cikungunya biasanya mengalami panas yang bersamaan dengan linu persendian, atau sakit kepala dan sakit pinggang. Dalam beberapa KLB pernah dilaporkan juga penderita cikungunya tidak mengalami panas namun menderita linu persendian (join pain). Persendian yang diderita mengalami perpindahan, dari sendi yang satu ke yang lain, kadang agak bengkak. Linu persendiannya terutama pada pagi hari, agak berkurang dengan gerakan ringan, namun menjadi tambah parah dengan gerakan yang dipaksakan. Linu persendiannya akan hilang dalam 2-3 hari , namun akan kembali lagi untuk beberapa hari, demikian berulang hingga beberapa minggu bagi sebagian kecil penderita. Kadangkala pada penderita cikungunya timbul bercak atau ruam pada kult, stomatitis (luka di mulut dan bibir). Keluhan seperti parastesi (rasa kesemutan, seperti ditusuk jarum) akibat gangguan syaraf perifer agak sering dijumpai. Yang agak jarang dikeluhkan atau dijumpai adalah photophobia (takut melihat sinar), nyeri dibelakang bola mata, muntah, berak dan gejala encephalopathy acuta (radang selaput otak).

Apabila disingkat, gejala klinik cikungunya yang paling sering adalah:

  1. Panas (92%) biasanya bersamaan dengan
  2. Linu persendian (87%)
  3. Sakit pinggang (67%) dan
  4. Sakit kepala (62%)
  5. Gangguan syaraf perifer (40%)

Perjalanan Penyakit

Virus masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk, biasanya pada pagi atau sore hari. Virus kemudian masuk kedalam sel endotel melalui proses endositosis yang tergantung pada pH (pH-dependent endocytosis). Selain sel endotel dari pembuluh darah, sel epitel, sel fibroblast primer, dan sel makrofage juga rentan terhadap invasi/infeksi virus cikungunya. Sedangkan limfosit dan monosit tidak rentan terhadap infeksi virus cikungunya.

Penderita cikungunya biasanya sembuh dalam waktu  5 hari hingga 2,5 bulan, tergantung umur penderita. Anak muda dan remaja lebih cepat sembuhnya dibanding orang lanjut usia.

Pada orang yang sedang hamil apabila kena cikungunya, virusnya tidak akan menginfeksi janinnnya. Namun bisa menularkan kebayinya pada saat kelahiran, melalui darah yang terinfeksi.

Kematian pada penderita cikungunya jarang terjadi.

Diagnosis

Diagnosis cikungunya hanya bisa ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis cikungunya ditegakkan berdasarkan terisolasinya virus cikungunya, atau deteksi IgM antibodi terhadap virus atau adanya kenaikan titer IgG antibodi.

Apabila terjadi endemi cikungunya, pembuktian laboratoris tidak perlu dilakukan pada semua orang, mengingat biayanya yang mahal serta prognosis penderita yang kebanyakan cukup baik.

Pengobatan

Pengobatan penderita cikungunya hanya simtomatik. Obat penurun panas hendaknya tidak memakai aspirin, tetapi paracetamol. Untuk menghilangkan rasa nyeri persendiannya digunakan chloroquine phosphate, karena linu persendian pada cikungunya tidak bisa dihilangkan dengan aspirin atau “non-seroidal anti-inflammatory drugs (NSAID)”. Pengobatan cikungunya hendaknya tidak memakai aspirin, ibuprofen, naproxen dan NSAID yang lain untuk menghilangkan nyeri persendian dan penurun panas (karena virus ini juga dapat menyebabkan thrombositopeni, India 2006).

Pemakaian chloroquine hendaknya hati-hati. Penyimpanannya juga hati-hati, jangan sampai terjangkau anak-anak. Pernah dilaporkan kematian anak umur tiga tahun yang meminum chloroquine hanya 750 mgr – 1000 mgr. Doses untuk menghilangkan linu persendian adalah 250 mgr perhari untuk beberapa hari. Efek samping mual, muntah, efek pada penglihatan, pendengaran, efek pada otot. Apabila setelah minum chloroquine terjadi gangguan penglihatan maka segera hentikan pengobatan. Orang hamil hendaknya tidak minum chloroquine.

Hendaknya diperhatikan juga keadaan umumnya apakah membutuhkan penambahan cairan atau bahan darah lainnya, hal ini hanya bisa dilakukan di rumah sakit.

Olah raga ringan dapat mengurangi kaku persendian, namun tidak boleh berlebihan karena dapat memperberat gejala persendiannya.

Pencegahan

Dewasa ini belum ada vaksin untuk cikungunya.

Pencegahan yang paling efektif adalah menghindari kotak dengan nyamuk yang terinfeksi dan kontrol terhadap perkembang biakan nyamuk. Seperti halnya demam berdarah Demam Berdarah dapat dicegah dengan memberantas jentik-jentik nyamuk (Aedes Aegypi) dengan cara melakukan PSN (Pembersihan Sarang Nyamuk) (3M, menguras, menutup dan mengubur), dengan foging untuk membunuh nyamuknyya. Usaha perorangan dengan memakai celana panjang, lengan panjang, obat nyamuk krim yang dipakai di kulit (repellent), tempat gantungan baju dan kebun/taman hendaknya juga diperhatikan.

Kepustakaan

Chikungunya.htm. From Wikipedia, the free encyclopedia.

Chikungunya_outbreaks.htm. From Wikipedia, the free encyclopedia.

http://www.searo.who.int/LinkFiles/Publication_guidelines_on_cli_mgmt_chikungunya_fvr-%28cd-180%29.pdf (Guidelines on clinical management  of chikungunya fever)

http://www.searo.who.int/en/section10/section2246.htm (Chikungunya Fever, a re-emerging Disease in Asia)

http://www.phac-aspc.gc.ca/id-mi/chikungunyaf-eng.php (Public Health agency of Canada)

(Semua artikel di atas di “download”  tgl. 17 Juni 2010)

Chloroquine Wikipedia, the free encyclopedia

Chloroquine Official FDA information side effects and uses.

(Di down load tgl. 26 Juni 2010)