1. Pengantar

Hepatitis C adalah penyakit infeksi hepar yang disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV). Diperkirakan 270 – 300 juta penduduk dunia terinfkesi virus ini. Sebelumnya dikenal sebagai non-A non-B hepatitis. Pada tahun 1989 dibuktikan sebagai hepatitis C virus.

Penularan peyakit ini adalah melalui kontak darah-darah, misalnya lewat transfusi darah dan  jarum suntik.

Penderita hepatitis C sering sekali tidak mmenyadari adanya penyakit yang dideritanya. Diperkirakan hingga 40% orang yang pernah menderita hepatitis C perjalanan penyakitnya sangat pelan, sehingga semasa hidupnya tidak pernah mengalami gejala penyakit akibat gagal hepar.

Tulisan ini dibuat untuk menyegarkan kembali pengetahuan kita tentang hepatitis C, semoga.

2.Virus hepatitis C (HCV), besarnya sekitar 50 nm, mempunyai selaput yang menutupinya. HCV adalah suatu ”positive sense RNA virus”, termasuk famili Flaviviridae. Ada 6 genotipe yang tersebar di seluruh dunia. Tiap genotipe ada subtipe.

Genotipe 1. Subtipe 1a, terutama ditemukan di Amerika Serikat, Inggris dan Eropa. Sub tipe 1b terutama di Eropa dan Jepang.

Genotipe 2. Subtipe  2a, 2b, 2c, dan 2d terutama ditemukan di Jepang dan di Cina.

Genotipe 3. Subtipe 3a, 3b, 3c, 3d, 3e, 3f terutma di Skotlandia dan di Beberapa tempat di Inggris.

Genotipe 4. Subtipe 4a, 4b, 4c, 4d, 4e, 4f, 4g, 4h, 4i, 4j, terutama di Timur tengah dan Afrika.

Genotipe 5. Subtipe 5a ditemukan terutama di Gana dan Afrika Selatan.

Genotipe 6. Terutama di Hongkong, Makau, dan asia Tenggara.

Di Australia genotipe 1a dan 1b meliputi 55% dan genotipe 3a jumlahnya diperkirakan 36% prevalensi.

3. Cara penularan

Penelitian telah membuktikan bahwa hepatitis C sering dijumpai pada pecandu obat bius, mereka sering memakai jarum bersama yang tidak steril. Para dokter gigi dapat tertular lewat darah pasen yang kontak dengan jari yang terluka dari dokter gigi. Demikian pula sukarelawan lewat darah yang masuk ke mata atau luka para sukarelawan tersebut.

Penularan lewat hubungan sek sangat jarang, kecuali yang sering berganti pasangan. Bagi suami istri atau pasangan tetap yang salah seorang kena hepatitis C mereka tidak perlu memakai kondom apabila berhubungan. Penularan dari ibu yang terinfeki ke fetus bisa terjadi.

 

4. Perjalanan penyakit

Hepatitis C adalah penyakit yang terjadi hanya pada manusia. Zimpanse bisa ditularkan lewat penelitian, tapi tidak akan menderita hepatitis C.

Kebanyakan orang yang menderita hepatitis C tidak ingat kapan dan cara mereka terinfeksi, dan juga tidak merasa menderita penyakit ini. Mereka secara kebetulan terdiagnosis hepatitis C waktu mengadakan general cek up, karena SGOT dan SGPT-nya sedikit meningkat. Mereka tidak mempunyai gejala kelainan hepar. Apabila pada penderita hepatitis C timbul gejala, biasanya ringan dan tidak spesifik. Gejala yang bisa timbul, seperti gejala flu, nafsu makan menurun, fatig, gatal-gatal, agak kembung.

4.1. Hepatitis C acuta

Penderita hepatiti C  acuta adalah penderita yang mengalami penyakit ini selama 6 bulan pertama. Sekitar 60% – 70% tidak ada gejala sama sekali.

Vierus hepatitis C bisa terdeteksi dalam darah penderita dalam waktu satu sampai tiga minggu setelah terinfeksi, sedangkan antibodi terhadap HVC terdeteksi dalam 3 sampai 5 minggu. HVC bisa hilang secara spontan pada sekitar 10% – 60% penderita hepatitis C yang ditunjukkan dengan pemeriksaan SGOT, SGPT dan plasma ”HCV-RNA clearance”. Akan tetapi sebagian penderita mengalami infeksi yang berkelanjutan (persistent), dan dikatakan menjadi penderita hepatitis C khronik apabila menderita lebih dari 6 bulan.

4.2. Hepatitis C khronik

Secara klinik penderita hepatitis C khronik (HCK) sering asimptomatik, dan kebanyakan terdiagnosis secara kebetulan.

Perjalanan penyakit HCK berbeda dari penderita satu dengan yang  lain. Biarpun semua penderita HCK mengalami inflamasi hepar yang terlihat pada liver biopsi, namun terbentuknya ”liver scarring” /fibrosis bervariasi diantara penderita hepatitis C khronik. Data menunjukkan sepertiga akan mengalami sirrhosis hepatis dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun. Sepertiga yang lain akan menjadi sirrhosis hepatis dalam 30 tahun, sedangkan sisanya penyakit HCK berkembang sangat lambat dan penderitanya tidak pernah mengalami sirrhosis hepatis selama hayatnya.

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan perkembangan penyakit HCK diantaranya:

Umur, makin tua penderita makin cepat perkembangannya. Sek, laki-laki lebih cepat dibanding wanita. Peminum alkohol, lebih cepat perkembangannya bila dibandingkan dengan bukan peminum alkohol. Fatty liver, akan mempercepat perkembangan penyakit

5. Diagnosis Hepattitis C

Biasanya penderita Hepatitis C terdeteksi karena pada pemeriksaan rutin SGPT dan SGOT-nya mengalami kenaikan. Atau pada skrining donor darah dimana antibodi terhadap HC positif. Pemeriksaan dilanjutkan untuk melihat keadaan atau status hepar melalui pemeriksaan fungsi hepar yang lebih lengkap, dan USG. Kalau di luar negri biasanya dilakukan liver biopsi. Apabila dimungkinkan diperiksa jumlah virus dalam darah dengan penentuan HCV-RNA dan menentukan genotipenya.

6. Pengobatan

Apabila seseorang terdiagnose menderita Hepatitis C, tidak berarti penderita tersebut harus mendapat pengobatan, karena apabila orang tersebut hanya menderita sedikit kelainan pada heparnya kemungkinan orang tersebut menderita hepatik sirrhosis atau kanker hepar adalah kecil.

Indikasi penderita Hepatitis C yang bisa diberi pengobatan diantaranya, Serum SGPT tetap tinggi, hasil pemeriksaan HCV RNA tinggi dalam darah, pada liver biopsi menunjukkan adanya fibrosis dan terinfeksi virus, pada liver biopsi ditemukan adanya sel nekrosis, inflamasi dan infeksi HC. Sedangkan indikasi tidak perlunya pengobatan penderita HC diantaranya adalah: penderita yang tidak mampu atau tidak bisa patuh mengikuti program pengobatan, penderita yang alergi terhadap obat yang dipakai, penderita jantung unkompensated, penderita tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dan penderita depresi.

Hasil penelitian di Amerika yang melibatkan 3070 penderita Hepatitis C,  Rumah Sakit Johns Hopkins dan 118 pelayanan kesehatan lainnya (dilaporkan dalam New England Journal of Medicine online July 22, 2009) menunjukkan bahwa pengobatan standar Hepatitis C dengan peginterferon alfa-2a atau peginterferon alfa-2b, masing-masing dengan  ribavirin merupakan pengobatan terbaik dan bermanfaat untuk mencegah kerusakan hepar yang lebih parah dan mencegah gagal hepar. Keberhasilan pengobatan berkisar sekitar 39.8 persen and 40.9 persen.

Penelitian selanjutnya yang sedang berjalan adalah dengan mengurangi dosis peginterferon alfa 2b yang dikombinasi dengan ribavirin. Hasil sementara menunjukkan pengurangan dosis peginterferon alfa 2b memperoleh keberhasilan pengobatan sebesar 38 persen. Ada juga kelompok karena menderita efek samping dari ribavirin (anemia) maka dosis obat ini dikurangi, namun hasilnya juga sebaik bahkan lebih baik dari pengobatan dengan dosis standar yaitu bisa mencapai 52 persen.

Kunci keberhasilan pengobatan Hepatitis C terletak pada keadaan pada waktu  dimulainya terapi. Apabila pengobatan dimulai pada stadium 1 atau 2 maka keberhasilannya bisa mencapai 40 sampai 43 persen. Sedangkan apabila pengobatan atau terapi dimulai pada penderita stadium 3 atau 4 yang ditandai dengan makin banyaknya jaringan parut pada hepar, tingkat keberhasilannya hanya 20 sampai 23 persen.

Penelitian juga menunjukkan bahwa keberhasilan pengobatan bisa diprediksi. Apabila setelah satu bulan menjalani pengobatan jumlah virus dalam darah penderita tidak bisa dideteksi (were suppressed to below detection), keberhasilan pengobatan mencapai 90 persen. Sedangkan apabila untuk menghilangkan virus dari peredaran darahnya memerlukan tiga sampai enam bulan maka kemungkinan penyakitnya kambuh (viral rebound) berkisar antara 30 sampai 50 persen.

Informasi tambahan:

Menurut Poernomo Boedi Setiawan (2013), dengan obat anti virus hepatitis C yang  tersedia saat ini (di Indonesia) ternyata hasil pengobatan belumlah optimal, dan pasien akan menerima beban biaya pengobatan dan efek samping yang cukup berat (8).

7. Sumber bacaan

1. http://www.gastromd.com/education/hepatitisc2.html

2. Hepatitis C – Wikipedia, the free encyclopedia.mht

3. Hepatitis C, Genotypes Explained.mht

4. Hepatitis C, Symptoms, Transmission, Treatment American Liver Foundation.mht

5. Hepatitis C Treatment Reduces the Virus but Liver Damage Continues, December 4, 2008 News Release – National Institutes of Health (NIH).mht

6. Hepatitis C Treatments and drugs – MayoClinic_com.mht

7. Hepatitis C Causes, Symptoms, Diagnosis, and Treatment on MedicineNet_com.mht

Catatan: Semua sumber bacaan di atas di down load antara 18 hingga 26 Oktober 2009.

8.Poernomo Boedi Setiawan (2013). Chronic Hepatitis C : a disease with comprehensive approach. Naskah lengkap. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Penyakit Dalam Surabaya XXVIII 2013. p 179.

From Journal of Viral Hepatitis

Pegylated Interferon alpha-2b (Peg-IFN α-2b) Affects Early Virologic Response Dose-dependently in Patients with Chronic Hepatitis C Genotype 1 during Treatment with Peg-IFN α-2b Plus Ribavirin

Posted: 11/05/2009; J Viral Hepat. 2009;16(8):578-585. © 2009 Blackwell Publishing

Our results suggest that Peg-IFN was dose-dependently correlated with c-EVR, independently of ribavirin dose. Thus, maintaining the Peg-IFN dose as high as possible during the first 12 weeks can yield HCV RNA negativity and higher c-EVR rates, leading to better SVR rates in patients with CH-C genotype 1. (Download May 9 2010)

Penelitian ini sebenarnya dilakukan sebelum penelitian di Amerika yang melibatkan 3070 orang, sedangkan yang di Jepang ini melibatkan 984 orang di Rumah sakit Universitas di Osaka.

L. Barclay, MEDSCAPE June 22 2010, mengutip dari Recommendations for diagnosis and treatment of hepatitis C virus (HCV) infection in the family practice. The American Family Physician. (2010 June 1)

Tujuan pengobatan penderita Hepaitis C  khronik adalah untuk menghambat dan mencegah progessivitas fibrosis hepar, dan mencegah perkembanngan sirrhosis. Pengobaan dewasa ini dengan pegylated interferon alfa-2a atau  pegylated interferon alfa-2b dikombinasi dengan ribavirin dapat memprediksi apakah pengobatan dilanjutkan hingga selesai ataukah harus dihentikan ditengah jalan karena pengobatan tidak bisa diharapkan berhasil apabila dilanjutkan.

Pasen dengan genotipe 1 dan 4 hendaknya menjalani pengobaan selama 48 minggu, sedangkan yang menderita genotipe 2 dan 3 diobati selama 24 minggu.

Penentuan kadar HCV RNA secara quantitatif dapat memprediksi respon terhadap terapi. Apabila setelah menjalani pengobatan selama 4 minggu ternyata dapat menghilangkan virus dalam sampel darahnya (viral load test), maka pengobatan bisa dilanjutkan hingga selesai. Namun apabila setelah terapi diberikan selama 12 minggu tidak bisa mengurangi kadar virus (viral load test) menjadi kurang dari 1% maka kemungkinan besar pengobatan akan gagal dan tidak ada gunanya dilanjutkan.

Bagi yang ingin tahu apa arti viral load test bisa meng click di bawah ini!

WHAT IS VIRAL LOAD

Bagi yang ingin membaca review lengkap dari Medscape bisa meng clik di bawah ini!

L Barclay Medscape

Mudah-mudahan bermanfaat. Kembalilah berkunjung. mungkin ada berita baru tentang Hepattitis C